Oleh : Agus Setiyo, Pimred publiklampung.com
Bandar Lampung - publiklampung.com -- Hari raya Idul fitri 1446 Hijriah/2025 Masehi adalah momen penuh makna bagi umat muslim di seluruh dunia. Setelah sebulan penuh menjalankan ibadah puasa, umat Islam merayakan kemenangan dalam menyucikan diri dan mempererat tali silaturahmi. Idulfitri harus dimaknai lebih dalam dengan refleksi pribadi dan masyarakat.
Lebaran adalah saat yang tepat untuk kembali ke fitrah, membersihkan diri dari dosa dan kesalahan, serta memperbaiki hubungan antar sesama. Lebaran bukan hanya tentang mengenakan pakaian baru, tetapi tentang memperbaharui hati dan pikiran untuk menjadi pribadi yang lebih baik.
Namun, di balik kebahagiaan yang menyertai hari raya, masih ada beberapa fenomena yang mengkhawatirkan, terutama di kalangan generasi muda. Salah satunya adalah munculnya kenakalan remaja yang seringkali mewarnai malam perayaan Idul Fitri, seperti yang terjadi pada malam lebaran beberapa tahun terakhir. Fenomena konsumsi minuman keras (miras) di kalangan remaja menjadi salah satu masalah yang tak bisa diabaikan.
Pada malam takbiran atau malam lebaran, kita sering mendengar kabar tentang kenakalan remaja yang terlibat dalam tindakan yang merugikan diri mereka sendiri, seperti mengonsumsi miras atau bahkan terlibat tawuran. Ini jelas bukan gambaran yang sesuai dengan semangat Idulfitri yang harusnya penuh dengan kedamaian dan kesucian.
Fenomena ini bisa diatasi dengan pendekatan yang lebih intensif dari semua pihak, mulai dari keluarga, masyarakat, hingga lembaga pendidikan. Memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang nilai-nilai keagamaan dan moral sejak dini adalah langkah yang tepat untuk menghindari perilaku negatif di kalangan remaja.
Selain itu, dalam perayaan Idulfitri, masih ada masalah klasik yang sering kali muncul, yaitu kurangnya semangat memaafkan antar sesama. Masih ada perasaan marah dan dendam yang terbawa hingga hari raya, menghalangi banyak orang untuk memaafkan kesalahan yang terjadi di masa lalu.
Idul fitri bukan hanya sekadar perayaan lahiriah, tetapi lebih pada memperbaharui hubungan batin antara sesama. Kita harus lebih mudah memberi maaf, karena sesungguhnya maaf adalah salah satu kunci untuk meraih kedamaian dan kebahagiaan sejati.
Idul fitri memang membawa beragam pesan moral yang sangat dalam. Lebih dari sekadar momen berkumpul dengan keluarga dan teman, hari raya ini adalah kesempatan untuk merenung, memperbaiki diri, dan mempererat ikatan sosial. Melalui refleksi diri, penyelesaian masalah dengan hati yang lapang, dan usaha untuk memperbaiki kesalahan, kita bisa menyambut hari raya dengan lebih bermakna.
Momen Idul fitri kali ini adalah waktu yang sangat berharga untuk menumbuhkan kasih sayang, menghilangkan kebencian, serta menyatukan kembali hati yang telah lama terpisah. Sebuah momen yang harus dijadikan sebagai titik tolak untuk hidup yang lebih baik, lebih damai, dan lebih penuh pengertian.
Segenap keluarga besar publiklampung.com mngucapkan 'Selamat Hari Raya Idulfitri 1446 Hijriah, mohon maaf lahir dan batin'.
Editor : Anisa Bela
Reporter : Fira Ayu
Released © publiklampung.com
0 comments:
Post a Comment